Perjalanan kali ini dalam rangka menemani
Entah sudah berapa tahun saya tidak ke Candi Prambanan. Terakhir sih saya ke sini SD kelas 6. Eh, baru 4 tahun berarti ya, sekarang kan saya baru kelas X. *disiram air keras*
Perjalanan kali ini dalam rangka menemaniberhala pesugihan rekan kantor saya yang bernama Dita. Ternyata sisa-sisa letusan Merapi beberapa waktu sebelumya masih tersisa di komplek Candi. Dari Prambanan kami juga menyempatkan diri mengunjungi Candi Ratu Boko, yang kemudian saya ketahui menjadi lokasi syuting film Keramat. #JogjaIstimewa
Perjalanan kali ini dalam rangka menemani
Baru kali ini saya menemukan pantai yang seperti ini. Bayangkan, di kala pantai-pantai lain kebanyakan tumbuh pohon kelapa atau bakau, pantai ini justru bersikap antimainstream dengan menumbuhkan pohon cemara! Pantai hipster.
Pantai Goa Cemara terletak di daerah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih baik menggunakan kendaraan pribadi sih kalau mau ke sini, entah itu pribadi sendiri atau pribadi teman ya. Soalnya siapa tahu mendadak pada pengin beach hopping gitu, menyusuri seluruh pantai selatan.
Seperti yang saya tulis tadi, pantai ini ditumbuhi pohon-pohon cemara yang sedemikian banyaknya sehingga seakan membentuk goa di sepanjang pesisir pantai. Oh ya, jangan coba-coba nyebur di lautnya ya, ombak dan arusnya sangat besar...dan jangan pakai baju hijau juga, hormatilah mitos setempat :).
Oh iya, di Pantai Goa Cemara ini ada sebuah mercusuar. Untung pas ke sana ada penunggunya. Bukan, bukan penunggu yang perlu disuapin kemenyan, tapi ada bapak2 petugas di sekitar sana. Akhirnya dibolehin naik dengan biaya...nggg, berapa ya...7.500 per orang kalau nggak salah. Dan mercusuarnya...oh-anying-tinggi-tinggi-sekali-kiri-kanan-kulihat-saja-anyiiiing!!
Pantai Goa Cemara terletak di daerah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih baik menggunakan kendaraan pribadi sih kalau mau ke sini, entah itu pribadi sendiri atau pribadi teman ya. Soalnya siapa tahu mendadak pada pengin beach hopping gitu, menyusuri seluruh pantai selatan.
Seperti yang saya tulis tadi, pantai ini ditumbuhi pohon-pohon cemara yang sedemikian banyaknya sehingga seakan membentuk goa di sepanjang pesisir pantai. Oh ya, jangan coba-coba nyebur di lautnya ya, ombak dan arusnya sangat besar...dan jangan pakai baju hijau juga, hormatilah mitos setempat :).
Oh iya, di Pantai Goa Cemara ini ada sebuah mercusuar. Untung pas ke sana ada penunggunya. Bukan, bukan penunggu yang perlu disuapin kemenyan, tapi ada bapak2 petugas di sekitar sana. Akhirnya dibolehin naik dengan biaya...nggg, berapa ya...7.500 per orang kalau nggak salah. Dan mercusuarnya...oh-anying-tinggi-tinggi-sekali-kiri-kanan-kulihat-saja-anyiiiing!!
Perjalanan kali ini baru pertama kali saya lakukan, yaitu solo backpacking, alias nggelandang dhewean. Saya memutuskan ke Pulau Pari setelah Googling berhari-hari sebelumnya. Tadinya saya mau ke Tidung, mengingat sepertinya lebih ramai dan lebih banyak tempat menginap. Untunglah setelah cari-cari di Twitter, ada yang berbaik hati memberikan tumpangan bagi musafir seperti saya, beliau adalah mas Muji. Mas Muji ini ternyata memang sering bikin trip untuk ke Pulau Pari, Pulau Pramuka, dan Pulau Tidung. Anak Pulau Pari asli lho. Kalau pengin bikin trip ke sana berombongan, kontak dia aja.
Karena kapal kayu yang menuju Pulau Pari berangkat dari Muara Angke jam 7 pagi, saya harus naik TransJakarta yang paling awal, yaitu jam 5 pagi *kriyep-kriyep*. Di dalam kapal ini, ada beberapa rombongan yang mau ke Pulau Pari juga, ada yang ke Pulau Pramuka. Yang bikin saya nggak tahan untuk komen di Twitter, ada satu cewek yang bawa-bawa bantal kesayangannya...d'oooh *tepok jidat pakai bulu babi*.
Sampai di Pulau Pari, ternyata keren, Tuips! Apalagi Pantai Pasir Perawannya, lihat saja foto-foto di bawah nih.
Nah, Pantai Pasir Perawan ini ternyata ada legendanya. Dulu ada satu keluarga yang tinggal di sebuah pulau kecil yang berada di seberang pantai ini. Keluarga ini memiliki seorang anak perempuan yang masih remaja. Suatu ketika, anak perempuan mereka ini berjalan sendirian dari Pulau Pari menuju pulau tempat rumah mereka berada. Nah, tahu-tahu si anak perempuan ini lenyap begitu saja. Seluruh penduduk pun mencarinya ke mana-mana. Kemudian didatangkanlah orang pintar. Tak disangka, orang pintar ini mengatakan bahwa anak perempuan ini masih ada di sana, hanya saja sudah berbeda alam. Jadi anak ini dibawa oleh kekuatan gaib ke alam lain.
Di Pulau Pari ini ada juga spot untuk snorkeling di dekat dermaga kapal. Saya pun langsung nyebur dan mulai menjelajah...tanpa life vest! (#^O^)9. Sayangnya ternyata saya kurang jauh ke tengah, sehingga tidak mendapat spot yang bagus..boro-boro G-Spot. Saya pun nekat mencoba Dicapac saya, underwater case buat kamera kesayangan. Yah, baru pertama kali pakai. Cuma dapat foto bulu babi :-|.
Hari Minggunya, saya pun sudah saatnya pulang ke Jakarta. Iseng-iseng nyoba pulang naik speed boat, yang anehnya, lebih murah tarifnya daripada naik kapal kayu. Ternyata speed boatnya disubsidi oleh pemerintah untuk transportasi antar pulau di sini. Dan.......nyesel juga naik speed boat, berasa naik Kora-Kora Dufan! Sompret.
File Under:
backpacking,
beach,
Indonesia,
snorkeling
Sewaktu SD, siapa yang belum pernah mendengar Gunung Krakatau diajarkan di pelajaran IPS? Ada yang ngacung? Malu sama umur!
Okay. Perjalanan kali ini menuju Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau ini sebenarnya terbentuk dari...nggg, baca sendiri lah di bawah ini ya?
Sudah selesai bacanya? Good boy. *lempar ikan*
Untunglah kali ini EOnya gokil, keren, dan oke, namanya Learn Indonesia. Nggak kayak trip ke Kiluan sebelumnya yang kurang memuaskan, trip kali ini lebih menyenangkan.
Dengan jalur awal yang sama seperti trip Kiluan, yaitu Merak-Bakauheni-dermaga Canti, kita mendapat kesempatan untuk menikmati sunrise selama perjalanan menyeberang menuju Pulau Sebesi, tempat kita menginap.
Sampai di Pulau Sebesi, kita menuju ke Gunung Anak Krakatau untuk mendakinya. Tadinya saya pikir bakal sampai puncak Krakatau dan ngeliat lava yang meluap-luap, trus di kawahnya, grup Learn Indonesia akan mengorbankan Dico sebagai tumbal pesugihan...sayang harapan saya meleset.
Seperti foto di atas, itulah Gunung Anak Krakatau. Anaknya aja segitu, gimana emak sama bapaknya ya? Berikutnya, langsunglah kita dibriefing sama seorang ranger gunung. Saya sudah berharap bakal dapet guide Ranger Pink, tapi ya sudahlah.
Pada saat pendakian, sebenarnya tidak terlalu jauh/tinggi. Yang membuat sulit adalah medannya yang berupa pasir dan rasanya panas akibat matahari sehingga kaki akan sering terperosok. Untunglah sikit demi sikit lama-lama nylekit juga sih.
Esoknya, selama perjalanan pulang kita mampir dulu di Pulau Umang-Umang untuk gila-gilaan. Bahkan sempet ada sesi foto sensual 21+ di pantainya :D. Tapi yang ditampilin di sini cukup foto saya saja ya, sensual juga kok. So, enjoy me :">
Okay. Perjalanan kali ini menuju Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau ini sebenarnya terbentuk dari...nggg, baca sendiri lah di bawah ini ya?
Sudah selesai bacanya? Good boy. *lempar ikan*
Untunglah kali ini EOnya gokil, keren, dan oke, namanya Learn Indonesia. Nggak kayak trip ke Kiluan sebelumnya yang kurang memuaskan, trip kali ini lebih menyenangkan.
Dengan jalur awal yang sama seperti trip Kiluan, yaitu Merak-Bakauheni-dermaga Canti, kita mendapat kesempatan untuk menikmati sunrise selama perjalanan menyeberang menuju Pulau Sebesi, tempat kita menginap.
Sampai di Pulau Sebesi, kita menuju ke Gunung Anak Krakatau untuk mendakinya. Tadinya saya pikir bakal sampai puncak Krakatau dan ngeliat lava yang meluap-luap, trus di kawahnya, grup Learn Indonesia akan mengorbankan Dico sebagai tumbal pesugihan...sayang harapan saya meleset.
Seperti foto di atas, itulah Gunung Anak Krakatau. Anaknya aja segitu, gimana emak sama bapaknya ya? Berikutnya, langsunglah kita dibriefing sama seorang ranger gunung. Saya sudah berharap bakal dapet guide Ranger Pink, tapi ya sudahlah.
Pada saat pendakian, sebenarnya tidak terlalu jauh/tinggi. Yang membuat sulit adalah medannya yang berupa pasir dan rasanya panas akibat matahari sehingga kaki akan sering terperosok. Untunglah sikit demi sikit lama-lama nylekit juga sih.
Esoknya, selama perjalanan pulang kita mampir dulu di Pulau Umang-Umang untuk gila-gilaan. Bahkan sempet ada sesi foto sensual 21+ di pantainya :D. Tapi yang ditampilin di sini cukup foto saya saja ya, sensual juga kok. So, enjoy me :">
File Under:
beach,
Indonesia,
snorkeling
Teluk Kiluan. Perjalanan kali ini bertujuan satu: hunting lumba-lumba. No, tidak. Bukan hunting a.k.a diburu buat disembelih terus dimakan atau diair keras, tapi berburu buat difoto. Ah ya gitu lah ya pokoknya, bawel amat sih tinggal baca doang.
Jumat malam, saya berangkat sendirian dari kantor. Sementara gerombolan siberat beranggotakan Dico, Mila, Nuki, sudah berangkat duluan meninggalkan saya yang menangis di bawah kucuran air hujan. Sampai di Pelabuhan Merak, saya langsung menuju ke tempat kumpul para peserta dan...NGAPAIN ADA KRISTI DI SANA???
Kristi ini adalah teman kuliah saya. Lama nggak ketemu, tau-tau aja ketemu di sana. Ternyata dia temen satu kantornya Mila. Hadheh, dunia memang tak selebar daunkolor telor kelor.
Dari Merak, kita menuju pelabuhan Bakauheni untuk kemudian lewat jalan darat ke dermaga Canti. Dari dermaga Canti pun kita menyeberang ke Pulau Kiluan. E tapi sebelumnya mampir dulu ke spot snorkeling di Pulau Legundi. Yang uniknya, selama perjalanan menuju pulau, kapal kita diberhentikan oleh kapal patroli. Sepertinya Dico dicurigai sebagai owa-owa yang hendak kita selundupkan.
Yah, berhubung saya lagi males cerita detail, langsung aja ya liat foto-foto di bawah. Nggak banyak juga, soalnya waktu itu emang lagi males foto-foto. *ini sebenernya niat ngeblog nggak sih?*
Jumat malam, saya berangkat sendirian dari kantor. Sementara gerombolan siberat beranggotakan Dico, Mila, Nuki, sudah berangkat duluan meninggalkan saya yang menangis di bawah kucuran air hujan. Sampai di Pelabuhan Merak, saya langsung menuju ke tempat kumpul para peserta dan...NGAPAIN ADA KRISTI DI SANA???
Kristi ini adalah teman kuliah saya. Lama nggak ketemu, tau-tau aja ketemu di sana. Ternyata dia temen satu kantornya Mila. Hadheh, dunia memang tak selebar daun
Dari Merak, kita menuju pelabuhan Bakauheni untuk kemudian lewat jalan darat ke dermaga Canti. Dari dermaga Canti pun kita menyeberang ke Pulau Kiluan. E tapi sebelumnya mampir dulu ke spot snorkeling di Pulau Legundi. Yang uniknya, selama perjalanan menuju pulau, kapal kita diberhentikan oleh kapal patroli. Sepertinya Dico dicurigai sebagai owa-owa yang hendak kita selundupkan.
Yah, berhubung saya lagi males cerita detail, langsung aja ya liat foto-foto di bawah. Nggak banyak juga, soalnya waktu itu emang lagi males foto-foto. *ini sebenernya niat ngeblog nggak sih?*
| "A...ampun Pak...saya masih sekolah Pak... :'(" |
| Pulau Apalahitunamanyayangpentingfotoaja |
| Sunset Pulau Kiluan |
| Let's Hunt The Dolphins!!! |
| Berlatih Menempa Ilmu...Ilmu Nujum. |
File Under:
beach,
Indonesia,
snorkeling