Showing posts with label snorkeling. Show all posts
Showing posts with label snorkeling. Show all posts

Pari Island - 28-29 July 2012





Perjalanan kali ini baru pertama kali saya lakukan, yaitu solo backpacking, alias nggelandang dhewean. Saya memutuskan ke Pulau Pari setelah Googling berhari-hari sebelumnya. Tadinya saya mau ke Tidung, mengingat sepertinya lebih ramai dan lebih banyak tempat menginap. Untunglah setelah cari-cari di Twitter, ada yang berbaik hati memberikan tumpangan bagi musafir seperti saya, beliau adalah mas Muji. Mas Muji ini ternyata memang sering bikin trip untuk ke Pulau Pari, Pulau Pramuka, dan Pulau Tidung. Anak Pulau Pari asli lho. Kalau pengin bikin trip ke sana berombongan, kontak dia aja.


Karena kapal kayu yang menuju Pulau Pari berangkat dari Muara Angke jam 7 pagi, saya harus naik TransJakarta yang paling awal, yaitu jam 5 pagi *kriyep-kriyep*. Di dalam kapal ini, ada beberapa rombongan yang mau ke Pulau Pari juga, ada yang ke Pulau Pramuka. Yang bikin saya nggak tahan untuk komen di Twitter, ada satu cewek yang bawa-bawa bantal kesayangannya...d'oooh *tepok jidat pakai bulu babi*.


Sampai di Pulau Pari, ternyata keren, Tuips! Apalagi Pantai Pasir Perawannya, lihat saja foto-foto di bawah nih.










Nah, Pantai Pasir Perawan ini ternyata ada legendanya. Dulu ada satu keluarga yang tinggal di sebuah pulau kecil yang berada di seberang pantai ini. Keluarga ini memiliki seorang anak perempuan yang masih remaja. Suatu ketika, anak perempuan mereka ini berjalan sendirian dari Pulau Pari menuju pulau tempat rumah mereka berada. Nah, tahu-tahu si anak perempuan ini lenyap begitu saja. Seluruh penduduk pun mencarinya ke mana-mana. Kemudian didatangkanlah orang pintar. Tak disangka, orang pintar ini mengatakan bahwa anak perempuan ini masih ada di sana, hanya saja sudah berbeda alam. Jadi anak ini dibawa oleh kekuatan gaib ke alam lain.


Di Pulau Pari ini ada juga spot untuk snorkeling di dekat dermaga kapal. Saya pun langsung nyebur dan mulai menjelajah...tanpa life vest! (#^O^)9. Sayangnya ternyata saya kurang jauh ke tengah, sehingga tidak mendapat spot yang bagus..boro-boro G-Spot. Saya pun nekat mencoba Dicapac saya, underwater case buat kamera kesayangan. Yah, baru pertama kali pakai. Cuma dapat foto bulu babi :-|.




Hari Minggunya, saya pun sudah saatnya pulang ke Jakarta. Iseng-iseng nyoba pulang naik speed boat, yang anehnya, lebih murah tarifnya daripada naik kapal kayu. Ternyata speed boatnya disubsidi oleh pemerintah untuk transportasi antar pulau di sini. Dan.......nyesel juga naik speed boat, berasa naik Kora-Kora Dufan! Sompret.

Krakatau, The Great Mountain

Sewaktu SD, siapa yang belum pernah mendengar Gunung Krakatau diajarkan di pelajaran IPS? Ada yang ngacung? Malu sama umur!


Okay. Perjalanan kali ini menuju Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau ini sebenarnya terbentuk dari...nggg, baca sendiri lah di bawah ini ya?




Sudah selesai bacanya? Good boy. *lempar ikan*


Untunglah kali ini EOnya gokil, keren, dan oke, namanya Learn Indonesia. Nggak kayak trip ke Kiluan sebelumnya yang kurang memuaskan, trip kali ini lebih menyenangkan.


Dengan jalur awal yang sama seperti trip Kiluan, yaitu Merak-Bakauheni-dermaga Canti, kita mendapat kesempatan untuk menikmati sunrise selama perjalanan menyeberang menuju Pulau Sebesi, tempat kita menginap.




Sampai di Pulau Sebesi, kita menuju ke Gunung Anak Krakatau untuk mendakinya. Tadinya saya pikir bakal sampai puncak Krakatau dan ngeliat lava yang meluap-luap, trus di kawahnya, grup Learn Indonesia akan mengorbankan Dico sebagai tumbal pesugihan...sayang harapan saya meleset.




Seperti foto di atas, itulah Gunung Anak Krakatau. Anaknya aja segitu, gimana emak sama bapaknya ya? Berikutnya, langsunglah kita dibriefing sama seorang ranger gunung. Saya sudah berharap bakal dapet guide Ranger Pink, tapi ya sudahlah.


Pada saat pendakian, sebenarnya tidak terlalu jauh/tinggi. Yang membuat sulit adalah medannya yang berupa pasir dan rasanya panas akibat matahari sehingga kaki akan sering terperosok. Untunglah sikit demi sikit lama-lama nylekit juga sih.














Esoknya, selama perjalanan pulang kita mampir dulu di Pulau Umang-Umang untuk gila-gilaan. Bahkan sempet ada sesi foto sensual 21+ di pantainya :D. Tapi yang ditampilin di sini cukup foto saya saja ya, sensual juga kok. So, enjoy me :">




Kiluan Bay, Lampung

Teluk Kiluan. Perjalanan kali ini bertujuan satu: hunting lumba-lumba. No, tidak. Bukan hunting a.k.a diburu buat disembelih terus dimakan atau diair keras, tapi berburu buat difoto. Ah ya gitu lah ya pokoknya, bawel amat sih tinggal baca doang.


Jumat malam, saya berangkat sendirian dari kantor. Sementara gerombolan siberat beranggotakan Dico, Mila, Nuki, sudah berangkat duluan meninggalkan saya yang menangis di bawah kucuran air hujan. Sampai di Pelabuhan Merak, saya langsung menuju ke tempat kumpul para peserta dan...NGAPAIN ADA KRISTI DI SANA???


Kristi ini adalah teman kuliah saya. Lama nggak ketemu, tau-tau aja ketemu di sana. Ternyata dia temen satu kantornya Mila. Hadheh, dunia memang tak selebar daun kolor telor kelor.


Dari Merak, kita menuju pelabuhan Bakauheni untuk kemudian lewat jalan darat ke dermaga Canti. Dari dermaga Canti pun kita menyeberang ke Pulau Kiluan. E tapi sebelumnya mampir dulu ke spot snorkeling di Pulau Legundi. Yang uniknya, selama perjalanan menuju pulau, kapal kita diberhentikan oleh kapal patroli. Sepertinya Dico dicurigai sebagai owa-owa yang hendak kita selundupkan.


Yah, berhubung saya lagi males cerita detail, langsung aja ya liat foto-foto di bawah. Nggak banyak juga, soalnya waktu itu emang lagi males foto-foto. *ini sebenernya niat ngeblog nggak sih?*


"A...ampun Pak...saya masih sekolah Pak... :'("


Pulau Apalahitunamanyayangpentingfotoaja


Sunset Pulau Kiluan


Gudang Kandang Ayam Villa Pulau Kiluan


Let's Hunt The Dolphins!!!


Berlatih Menempa Ilmu...Ilmu Nujum.



Peucang Island, Indonesia



Pulau Peucang terletak di kawasan Ujung Kulon, Jawa Barat, Indonesia. Ujung Kulon sendiri adalah kawasan suaka marga satwa yang terkenal dengan badak Jawa yang sangat langka, yaitu badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus).


Dari Jakarta, saya berangkat dari terminal bus Kampung Rambutan, kurang lebih pukul 11 malam. Total perjalanan sekitar 2 jam menuju Serang. Dari Serang, saya menyewa angkutan umum berjenis Elf untuk menuju Taman Jaya. Perjalanan dari Serang menuju Taman Jaya inilah yang sangat melelahkan, sekitar 6 jam dan melalui jalan yang rusak.

Taman Jaya

Taman Jaya


Setelah tiga jam perjalanan di laut, akhirnya saya tiba di Pulau Peucang. Seketika saya pun terkejut dengan keindahan dan kebersihan pantai di Pulau Peucang. Dari atas dermaga pun saya dapat melihat dengan jelas segerombolan ikan yang sedang berenang di dalam laut.


Pulau Peucang

Pulau Peucang


Ada beberapa macam akomodasi di pulau ini: cottage, barak, dan tanah. Tanah? Ya, tanah, jadi yang mau backpackingan total pun bisa memasang tenda. Penginapan di sini tidak jauh dari pantai tadi. Di belakang penginapannya pun langsung berhadapan dengan hutan.




Cottage




Cottage




Cottage


Jangan terkejut kalau Anda menemui hewan-hewan di bawah ini. Mereka memang berkeliaran dengan bebas di sekitar penginapan. Hewan-hewan ini sudah jinak dan terbiasa dengan manusia. Meskipun demikian, untuk monyet, harap berhati-hati dalam meletakkan barang Anda, karena bisa saja diambil oleh mereka :D.


Babi hutan




Anak babi




Monyet




Rusa


Ada beberapa tempat yang wajib dikunjungi selama di Pulau Peucang ini. 


1. Karang Copong


Hutan belakang penginapan




Fungi




Karang Copong




Karang Copong


2. Padang Cidaon


Tengkorak banteng




Banteng


3. Tanjung Layar


Tanjung Layar




Ular pohon




Tanjung Layar




Tanjung Layar




Ular pohon




Kupu-kupu




Penjara bekas kolonial Belanda




Tanjung Layar


4. Handeleum


Handeleum