Pulau Sempu - Segara Anakan


Ini bukan merupakan catatan perjalanan. Saya baru akan mengunjungi Pulau Sempu lebaran ini karena tujuan sebelumnya yaitu Bromo sepertinya masih belum bisa terlaksana. Namun tampaknya niat untuk backpacking ke Pulau Sempu pun harus dibatalkan setelah membaca beberapa artikel dari internet.


Pulau Sempu sebenarnya merupakan cagar alam. Menurut Wikipedia, cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Dengan demikian, Pulau Sempu bukanlah tempat untuk rekreasi atau berwisata. Berbeda dengan taman nasional, semisal Taman Nasional Ujung Kulon, yang memang pengelolaannya meskipun sama-sama bertujuan untuk melindungi hewan, tumbuhan, dan segala ekosistem di dalamnya, tetapi juga diperuntukkan sebagai tempat rekreasi.


Berikut saya kutip cerita dari blog Bent4indonesa yang bersumber dari http://bent4indonesa.wordpress.com/2011/09/07/sedikit-coretan-tentang-segara-anakan-pulau-sempu/


"Selain memberikan keuntungan ekonomis bagi para buruh penarik kapal, lonjakan jumlah pengunjung juga membawa dampak memprihatinkan bagi pulau Sempu. Sepanjang perjalanan yang kami lalui, sampah-sampah plastik sisa mie instan atau makanan ringan banyak terlihat di antara tumpukan daun. Hal yang sama juga terjadi di Segara Anakan yang di sepanjang garis pantainya memang sering dijadikan tempat oleh para pengunjung untuk berkemah. Disana, sampah-sampah plastik seperti botol air mineral, bungkus makanan dari plastik, botol minuman keras, dll (bahkan yang cukup menyedihkan, saya sempat mendengar celetukan pengunjung lain yang mengaku menemukan kondom bekas di dekat tendanya). Sampah-sampah itu tak hanya tersebar di atas pasir, namun tak sedikit pula darinya yang dibuang seenaknya ke dalam air pantai Segara Anakan.


Selain itu, beberapa pengunjung yang menurut saya norak juga merusak terumbu karang di dasar pantai (kebetulan saat kami datang, air benar-benar sedang surut sehingga jajaran terumbu karang di dalam pantai muncul ke atas permukaan air) dengan cara mengangkat dan memindah-mindahkannya. Tujuannya tak lain untuk menemukan ikan hias atau batu karang indah yang bisa dibawa pulang.

Yang lebih norak lagi, di beberapa sudut karang tepi pantai juga bisa ditemukan coretan-coretan yang dibuat menggunakan cat olah tangan-tangan iseng. Saya jadi berpikir kalau mereka-mereka yang melakukan ini ingin meninggalkan sedikit kenang-kenangan yang bisa mereka lihat lagi bila kelak mampir kembali ke Segara Anakan, atau memang ingin memamerkan eksistensinya (seolah berkata, “ini loh, saya pernah datang kesini dulu”).

Ada sedikit cerita menarik tentang membludaknya jumlah pengunjung yang memasuki kawasan cagar alam pulau Sempu ini. Seperti kedatangan-kedatangan saya sebelumnya, pada kunjungan saya yang terakhir itu tak lupa kami melapor dulu kepada Polisi Hutan yang salah satu tugasnya adalah mengawasi setiap pengunjung yang memasuki kawasan tersebut. Saat kami melapor, petugas -yang curiga kami akan melakukan peliputan di kawasan Sempu- itu mengungkapkan bahwa sebenarnya kawasan Sempu tidak boleh dimasuki tanpa surat ijin yang diberikan oleh BKSDA  Jatim. Dengan kata lain, tidak sembarangan wisatawan bisa masuk kesana kecuali memiliki tujuan yang jelas seperti penelitian misalnya. Namun melihat antusiasme masyarakat yang berkeras ingin masuk ke kawasan tersebut, maka tak banyak yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya.

“Seharusnya Sempu nggak boleh dimasuki wisatawan, tapi kami nggak bisa berbuat apa-apa saking banyaknya orang yang pingin kesana,” ujar petugas tersebut.

Disinilah akhirnya bisa saya simpulkan bahwa sejak lama Pengelola kawasan cagar alam pulau Sempu memang tidak berdaya menghadapi keinginan banyak orang yang berbondong-bondong ingin memasuki kawasan Sempu. Mungkin karena itu pula, papan peringatan untuk tidak merusak kawasan Cagar alam ini yang dulu masih terpasang di teluk semut, kini sudah menghilang. Akibatnya seperti sudah bisa ditebak, kerusakan wisata cagar alam pulau Sempu hanya tinggal menunggu waktu."

P.S. Saya sengaja tidak menyertakan foto Pulau Sempu ataupun Segara Anakan di sini agar pembaca lebih fokus pada kondisi kritis Pulau Sempu.